Selasa, 06 Oktober 2026

Bacaan Harus Khusyuk, Bukan Ramai Sendiri: MIN 4 Gunungkidul Tegaskan Makna Pembiasaan Pagi


Wonosari (MIN 4 Gunungkidul) – Ada pelajaran kecil yang kembali ditegaskan dalam pembiasaan pagi di MIN 4 Gunungkidul, Selasa (6/10/2026). Ketika pembacaan Asmaul Husna sebelumnya masih diwarnai siswa yang ramai, pagi ini seluruh siswa laki-laki diminta mengulang pembacaan tersebut dengan lebih tertib.

Seperti biasa, pagi hari di MIN 4 Gunungkidul diawali dengan pembiasaan sholat dluha bersama dilanjut dengan membaca asmaul husna dan kitab Alaa laa. Siswa mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan sebelum memulai aktivitas pembelajaran. Namun, kali ini ada penekanan khusus pada pembacaan Asmaul Husna. Umi Suryani, S.Pd.I. meminta seluruh siswa laki-laki untuk kembali membaca Asmaul Husna.

Pengulangan tersebut menjadi bentuk evaluasi sederhana terhadap sikap siswa dalam mengikuti pembiasaan. Sebelumnya, ketika pembacaan Asmaul Husna berlangsung, masih ada siswa yang ramai sehingga suasana belum sepenuhnya tertib.

Kesempatan mengulang dimanfaatkan untuk membangun kesadaran bahwa pembiasaan bukan sekadar kegiatan yang dilakukan karena sudah menjadi rutinitas. Ada sikap yang juga perlu dijaga—mendengarkan, mengikuti dengan baik, dan tidak mengganggu teman yang sedang menjalankan kegiatan.

Bagi siswa, hal ini menjadi pengingat bahwa kegiatan sederhana yang dilakukan setiap pagi pun memiliki nilai pembelajaran. Ketertiban saat membaca Asmaul Husna menjadi bagian dari latihan untuk menghargai kegiatan bersama.

Pembiasaan pagi akhirnya bukan hanya tentang mengawali hari dengan kegiatan keagamaan. Di dalamnya ada proses kecil untuk belajar disiplin, belajar menghargai, dan belajar bertanggung jawab terhadap sikap sendiri. Asmaul Husna boleh diulang, tetapi yang paling penting adalah sikap baik yang ikut tumbuh setiap kali pembiasaan dilakukan.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More