Selasa, 22 September 2026

“Apa Isi Botolmu?” Pesan Kepala MIN 4 Gunungkidul untuk Menguatkan Akhlak Siswa


Wonosari (MIN 4 Gunungkidul) – Sebuah botol kosong diletakkan sebagai perumpamaan sederhana, tetapi pesan yang disampaikan Kepala MIN 4 Gunungkidul, Laily Fauziah, S.Pd.I., Selasa (22/9/2026), cukup dalam.

Dalam pembiasaan pagi, peserta didik diajak memahami bahwa nilai sebuah botol bukan hanya tentang bentuk wadahnya, tetapi juga tentang apa yang ada di dalamnya.

Botol kosong tentu tidak memiliki nilai seperti botol yang memiliki isi. Namun, botol yang sama dapat memiliki harga berbeda ketika isinya berbeda. Air, susu, jus, madu, hingga parfum memiliki nilai masing-masing. Semakin tinggi kualitas isi yang berada di dalamnya, semakin tinggi pula nilai yang melekat padanya.

Dari botol itulah Laily mengajak peserta didik melihat dirinya sendiri.

“Coba kita bayangkan diri kita seperti botol. Kalau botolnya kosong, apa yang bisa kita banggakan? Tetapi kalau diisi dengan sesuatu yang berkualitas, nilainya menjadi berbeda. Begitu juga diri kita. Semakin baik akhlak dan perilaku yang kita miliki, semakin berharga diri kita,” tutur Laily.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas diri tidak cukup dibangun dari apa yang tampak dari luar. Akhlak dan kebiasaan baik menjadi bagian penting yang perlu terus diisi dan dipelihara.

Pembiasaan pagi kemudian berlanjut pada penguatan 5S: Salam, Senyum, Sapa, Sopan, dan Santun.

Di lingkungan madrasah, peserta didik dibiasakan untuk memberikan salam, tersenyum, menyapa, serta menunjukkan sikap sopan dan santun ketika bertemu guru maupun tamu.

Menariknya, pesan tersebut tidak berhenti sebagai teori. Lilis Hanifah, S.Pd.I memberikan contoh langsung bagaimana penerapan 5S ketika bertemu guru atau tamu. Setelah itu, beberapa peserta didik diminta maju untuk mempraktikkannya.

Ada yang mencoba memberikan salam, menyapa, menunjukkan senyum, hingga memperagakan sikap sopan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Cara sederhana tersebut membuat pembiasaan pagi menjadi lebih interaktif. Peserta didik tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga melihat contoh dan mencoba mempraktikkannya sendiri.

Bagi MIN 4 Gunungkidul, pembentukan karakter memang tidak selalu harus melalui kegiatan besar. Pesan sederhana yang disampaikan berulang dan dipraktikkan dalam keseharian justru menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan peserta didik.

Sebab, seperti filosofi botol yang disampaikan pagi itu: yang menentukan nilai bukan sekadar wadahnya, tetapi apa yang kita pilih untuk mengisinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More