Senin, 21 September 2026

Bukan Sekadar Siaga Bencana, SATRIYO MIN 4 Gunungkidul Diajak Jadi Penggerak Karakter Teman Sebaya


Wonosari (MIN 4 Gunungkidul) – Menjadi anggota SATRIYO bukan hanya tentang siap menghadapi keadaan darurat. Di MIN 4 Gunungkidul, peserta didik yang tergabung dalam Sahabat Tagana Junior Istimewa Yogyakarta (SATRIYO) juga didorong untuk menjadi teladan dan penggerak budaya positif di lingkungan madrasah.

Pesan tersebut disampaikan Imamia Mardini, S.Pd., dalam pembinaan karakter yang berlangsung Jumat (18/9/2026). Pembinaan ini menjadi bagian dari penguatan peran SATRIYO setelah sebelumnya para peserta didik mendapatkan pelatihan dari TAGANA dan Dinas Sosial DIY.

Jika sebelumnya mereka dibekali keterampilan kesiapsiagaan bencana, kini tantangannya diperluas: bagaimana pengetahuan dan nilai kepedulian tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.

SATRIYO diharapkan mampu menjadi contoh bagi teman-temannya, terutama dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan belajar. Ketika melihat sampah berserakan, lingkungan yang kurang tertata, atau perilaku yang mengganggu kenyamanan bersama, mereka diharapkan tidak tinggal diam. Namun, mengingatkan teman juga membutuhkan cara yang tepat.

“SATRIYO harus bisa menjadi contoh. Kalau ada teman yang membuang sampah sembarangan atau melakukan sesuatu yang mengganggu kenyamanan bersama, jangan hanya melihat. Ingatkan dengan cara yang baik. Begitu juga ketika ada tindakan yang mengarah pada bullying, jangan dibiarkan,” pesan Imamia.

Pesan tersebut menempatkan SATRIYO bukan sebagai kelompok yang bertugas menghakimi teman, melainkan sebagai teman sebaya yang peduli dan berani mengingatkan demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Kepala MIN 4 Gunungkidul, Laily Fauziah, S.Pd.I., mengapresiasi pembinaan tersebut dan berharap anggota SATRIYO mampu membawa semangat kepedulian dalam keseharian.

“Kami ingin anak-anak SATRIYO menjadi bagian dari gerakan membangun lingkungan madrasah yang aman dan nyaman. Mereka bisa menjadi contoh bagi teman-temannya dan ikut menumbuhkan kebiasaan saling menjaga, saling menghargai, serta peduli terhadap lingkungan,” ungkap Laily.

Pembinaan karakter ini melengkapi pengalaman yang telah diperoleh anggota SATRIYO melalui pelatihan kebencanaan. Dari kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana, mereka kini diajak untuk lebih peka terhadap “hal-hal kecil” yang terjadi di lingkungan sekitar. Sebab menjadi siaga tidak selalu berarti menunggu keadaan darurat datang.

Kadang, kesiapsiagaan dimulai dari keberanian mengingatkan teman, memungut sampah yang berserakan, menjaga kenyamanan kelas, dan memastikan tidak ada teman yang merasa sendirian atau dirundung.

Dari sanalah SATRIYO MIN 4 Gunungkidul diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai sahabat siaga bencana, tetapi juga sahabat bagi sesama. 💚

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More